“Move
On”
Bengkulu, 16
Februari 2006
“Ayo c’mon
.. mari c’mon .. buat apa kita nge-down ... Move on.. Move on..”
Yaa... kurang lebih begitulah
lirik lagu yang sedari tadi kudengar, aku duduk di kursi halte, sedang menunggu
bus yang akan mengantarku pulang. Waktu itu pukul 16:45 WIB saat sebuah bus
berhenti di depan halte, dan kulihat mereka berdesakan, berebut untuk masuk
terlebih dahulu kedalam bus. Aku tahu bus itu tak akan penuh, jadi aku
bersantai saja, perlahan supaya tidak terjatuh, atau menginjak kaki orang lain.
Benar
sekali dugaanku, bus itu tidak penuh, masih ada satu bangku kosong, saat
kulihat seorang gadis sedang duduk di samping bangku kosong itu. Segera aku
duduk, karena bus akan jalan. Di perjalanan, aku tetap saja mendengarkan lagu
kesukaanku yang sejak tadi kuputar. Musik itu sengaja aku buat menjadi mode repeat, karena aku sangat senang
mendengarnya, bagiku lirik lagu itu memberikan sebuah motivasi. Apalagi
sekarang tiba – tiba hujan dan dingin. Tak ada yang bisa kulakukan selain
bersandar di kursi bus dengan i-Pod
di
telingaku.
Disaat
kurasakan tubuhku mulai menggigil kedinginan, bahkan bergetar karena dingin.
Saat itulah wanita yang sedari tadi hanya duduk diam di sampingku menawari
segelas kopi hangat instan yang ternyata ia bawa di dalam tasnya. Seketika dari
suasana yang ramai dan bising di dalam bus menjadi hening, senyap, dan sepi,
hanya terdengar suara rintik hujan yang terdengar semakin lebat dan udara di
dalam bus semakin dingin. Aku masih belum berkata apa – apa selain kata “thank
you” yang tadi aku ucapkan kepada wanita di sebelahku sebagai tanda hormatku
atas kopi pemberiannya.
“Pak Sopir, Berhenti !” teriak
wanita di sampingku, aku hanya diam. Saat dia melihatku, aku ikut melihatnya,
kulihat dia melontarkan senyumnya kepadaku, kemudian. “ excuse me !” katanya.
Aku tersadar kalau posisi tas dan kakiku menghalangi ia untuk keluar. Tanpa
bicara aku hanya bergeser untuk membukakan jalan supaya dia bisa pergi.
**
Bus kembali berjalan, namun aku baru sadar aku
melupakan sesuatu, aku lupa menanyakan nama gadis yang tadi berbaik hati
memberikanku kopi.
“Aagh..! sial..! kenapa bisa
sampai lupa...!”
Aku bergumam sendiri, aku geram sendiri, kenapa tadi
aku lupa bertanya.
“Semoga saja besok bisa kembali
bertemu..”
Aku berbicara sendiri di dalam hati, aku sangat
mengharapkan bisa kembali bertemu, dan mengobrol dengannya. Aku tidka apa,
meski hanya 5 menit. 5 menit bersamanya, bagiku 5 jam.
“Haha’.. kok aku jadi tiba – tiba
alay banget ya..”
Sama seperti tadi, aku lagi – lagi berbicara sendiri,
dan sekarang ditambah aku tertawa sendiri.
“ehm..!”
Aku tidak tahu kenapa, tapi orang tua yang duduk di
sampingku terbatuk, mungkin dia illfeel
karena tingkahku yang dilihatnya
aneh. Dan sejak itu, aku diam saja, tak memikirkan hal – hal aneh yang akan
mengganggu orang lain.
**
Tiit ...tiiit ...tiit ...tiiit ...
Jam
tanganku berbunyi, kulihat saat itu pukul 17:15 WIB dan hujan sudah reda. Aku
beranjak turun dari bus, mengetuk pintu rumah, dan kulihat kakek dan nenekku
sedang duduk di sofa dengan televisi yang menyala memutarkan film HEART.
Imajinasiku muncul, aku membayangkan kake dan nenekku saat mereka muda dulu. Aku
juga membayangkan saat mereka melakukan segala hal bersama layaknya Farel dan
Rachel, yaaah... begitulah setahuku nama dua tokoh utama dalam film itu.
**
Hari
ini aku baru pulang sekolah, seperti senin biasanya gerbang sekolah dibuka dan
siswa diperbolehkan pulang pukul 14:45 WIB. Segera kuambil tasku dan langsung
keluar menuju gerbang, karena aku tak ingin tertinggal bus. Mungkin jaraknya
yang jauh, sehingga jarang ada angkutan umumyang menuju ke arah rumahku,
mungkin mereka mempertimbangkan bahan bakar yang dibutuhkan sekedar bolak –
balik dari pusat kota ke desa. Rumahku terletak di Bengkulu bagian timur,
berjarak 30 kilometer dari pusat kota, di sebuah desa, dimana hutan masih
sangat terjaga, udara sejuk, dan sunrise
yang sangat cantik. Aku bersekolah di kota berkat beasiswa yang aku dapatkan
dari sekolah awalku di desa, dan selanjutnya aku terus bersekolah di kota.
**
Tiit ...tiiit ...tiit ...tiiit ...
Lagi
– lagi jam tanganku berbunyi, aku sedikit tersentak, karena aku tidak sadar
kalau sedari tadi aku tertidur di bus. Entah karena terlalu capek, atau alunan
musik di dalam bus ini yang membuatku tertidur. Yang jelas aku terbangun, dan
.. kulihat sekelilingku, kukira tak ada yang spesial sampai aku melihat sebuah
bangku kosong di baris kedua dan ada seorang wanita muda di sampingnya. Aku
tidak tahu siapa, dan mungkin tidak akan pernah tahu, sampai aku memberanikan
diri untuk melangkah kedepan, dan kutemui wanita cantik, yang baik kepadaku
tempo hari. Kami mengobrol, membahas berbagai hal yang diselingi dengan
candaan, sehingga aku bisa melihat senyumnya yagn indah. Tak terasa waktu
berjalan begitu cepat, dan sekarang bus sudah berhanti di depan rumahnya, aku
tentu tak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk yang kedua kalinya.
Kutanya namanya, dan dengan sedikit senyum ia menjawab.
“
Cassandra, Cassandra Elaine Peter.”
Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, kemudian
berdetak lagi, dan spontan kubalas ucapannya.
“
Wulf, Wulf Trygvassen. “
Dia kembali menjawab.
“
Wulf, nice to meet you “
Kutimpali ucapannya dengan senyuman, dan dia pun
turun dari bus.
Hari berganti, bahkan minggupun tak terasa telah
delapan kali lewat. Dan kami semakin dekat, semakin terbuka satu sama lain,
bahkan aku merasa nyaman saat berdua dengannya, dan merasa gelisah saat jauh
darinya...
**
Hari ini Sabtu, 15 April 2006, jam tanganku sudah
menunjukan pukul 19:05 WIB, malam ini aku mengajak Cassandra untuk dinner, dan tentunya ada maksud lain,
yaitu aku ingin malam ini menjadi malam terindah baginya yang takkan pernah
dilupakannya selamanya. Celana jeans, dengan jas hitam dan sepatu cokelat yang
sekarang kukenakan, aku siap berangkat, aku harap ini tidak terlambat.
Setibanya
disana, di salah satu coffe shop di Bengkulu, aku lngsung duduk, saat
kupandangi sekeliling tak ada orang yang kucari. Lonceng kecil di atas pintu
itu terus saja berdenting, namun bukan Cassandra. Saat aku mulai bosan
menunggu, saat itulah lonceng pintu coffe
shop berbunyi. Saat aku memutar
kepala, betapa terkejutnya, seorang wanita muda dengan gaun merah dan sepatu highhil
merah mencuri perhatianku, aku terpaku sejenak, aku tak percaya akan apa
yang kulihat sekarang, terlebih saat kulihat ia duduk di depanku.
“
Hai ... “
Sapanya lembut. Namun aku tetap membatu. Hingga
wanita itu bertanya kepadaku.
“
What happend? apakah pakaianku salah? “
Barulah kujawab.
“
oh .. tidak, you are beautiful.”
Kata – kata itu meluncur sendiri dari mulutku. Dan
selanjutnya aku menceritakan maksudku mengundangnya kemari, dan diakhir
dialogku, aku memberitahukannya tiga kata yang selama ini kurasakan dan yang
membuat hatiku gelisah.
Kata itu adalah :
“
Aku sayang kamu “
Dan yang tak pernah kuduga ialah, jawabannya atas
pertanyaanku. Katanya.
“
Aku juga sayang kamu “
Seketika, jantungku berhenti berdetak, kurasakan
dingin dan panas di sekujur tubuhku, perasaanku bercampur aduk, namun yang paling dominan aku rasakan
adalah rasa bahagia. Aku tak menyangka ia juga menyimpan perasaan yang sama
kepadaku, dan itulah, apa yang aku impikan terwujud, malam ini, bersama
Cassandra, cinta terakhirku, itulah yang kuharapkan. Aku tak ingin kehilangan
Cassandra seperti aku kehilangan kekasihku dulu. Mulai malam ini, aku berjanji,
akan menjaga Cassandra, melindunginya, dan takkan kulepaskan.
**
Sekarang,
hari – hariku tak sendiri, hariku tak lagi sepi, aku tak lagi merasa sepi,
Cassandra selalu ada untukku, dan aku juga selalu ada untuknya, aku tak ingin
ia merasa diacuhkan, karena aku tak ingin dia sedih, sekarang dan selamanya.
Aku ingin dia bahagia bersamaku, sekarang dan selamanya.
TAMAT