“ Lembaran Cinta
Dirga “
- Pukul 8 pagi, di Tebeng –
“Aaagh...!!
Gue telat lagii...!!”
Suara
teriakan dari seorang anak muda itu menggema ke seluruh penjuru kompleks.
Terlihat dia sangat tergesa – gesa pagi itu. Waktu menunjukan uku 08:15 WIB
saat dia keluar dari kost-an nya dan berangkat ke sekolah, entah apa yang dia
lakukan tadi malam sehingga dia bangun kesiangan pagi ini.
Terlihat,
dia memberhentikan sebuah angkot – angkutan kota dari Bengkulu – berwarna
merah, jelas itu adalah angkot yang menuju ke arah sekolahnya. Terdengar aneh
memang, seorang anak pemalas seperti dia, dapat masuk ke sekolah yang tergolong
elit di Bengkulu. Namun begitu, dia memang anak yang mandiri, rajin, sopan
santun, dan terkenal baik. Dia tak segan – segan membantu temannya ketika
temannya dalam kesulitan, dan tak peduli siapa, dia akan membantu.
**
- Pukul 08:30 WIB, Bengkulu
International School –
Sekolah
dengan akreditasi A, dan selalu memenangkan Adipura dan Adiwiyata ini sangan
populer di kota Bengkulu. Banyak sekali wali murid yang mendatarkan anaknya
disini, namun hanya sebagian kecil dari mereka yang diterima karena sisem
seleksi yang sangat ketat dari pihak sekolah. Bengkulu International School
atau yang lebih dikenal dengan nama BIS – dibaca dalam bahasa Inggris – ini
hanya memilih anak – anak terbaik saja, tidak mentup kemungkinan, dari 1 juta
pendaftar, hanya 50 – 100 anak saja yang diterima dan salah satunya si pemalas
itu.
Setibanya
di sekolah, anak itu langsung berlari menuju kelasnya, dan seperti dugaannya,
ia telat mengikuti ulangan hari ini. Gurunya tak lantas membiarkan anak itu
masuk, dia memerintahkan agar anak itu terlebih dahulu melapor kepada guru BK.
“Aaagh..!!
alamat dapet oin lagi nih!” bisiknya dalam hati.
Diruang BK, guru BK telah
menunggu, mungkin dia sudah mendapat laporan dari guru yang tadi mengajar di
kelas. Guru BK mempersilahkannya duduk, dan menceritakan kejadian yang dia
alami sehingga dia bisa datang terlambat pagi ini.
Anak
itu menceritakan semua kejadian yang ia alami sesuai urutan, mulai dari alasan
kenapa ia telat tidur hingga alasan kenapa dia bisa telat ke sekolah pagi ini.
Tak ada satupun peristiwa yang luput dari ceritanya, ia dengan lepasnya
menceritakan semua beban pikirannya kepada guru BK-nya tersebut. Dia merasa
bawa inilah satu – satunya media sharing
yang dia punya, lebih tepatnya satu – satunya media sharing yang terpercaya, dapat menyimpan rahasianya. Setelah habis
15 menit dia bercerita, guru BK memperbolehkannya masuk kelas dengan syarat
tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.
“
Jadi, saya tidak dihukum bu,? “ Tanya anak itu.
Muka yang tadinya bak cucian
diremas, seketika berubah menjadi girang yang tak terhingga.
“ Karena
kamu telah bercerita semua hal dan kamu berkata jujur, kamu boleh masuk kelas,
dan nanti ibu akan meminta ibu Laili untuk memberi waktu ulangan susulan untuk
kamu. “ Jawab guru BK dengan tersenyum.
“
Terima kasih bu, terima kasih. “
Anak itu kemudian berlalu
meninggalkan ruang BK untuk masuk ruang kelasnya. Dia merasa sangat beruntung,
jujur telah menyelamatkannya dari hukuman guru BK yang terkenal kejam – memang
tujuannya untuk membuat siswa jera –.
**
-
Pukul 10:30 WIB, bel istirahat berbunyi –
“ Heh, Bi! Kantin yuk! “ ajak
Daffa.
“ Ia, bentar lagi, tanggung nih
tinggal satu soal lagi! “ Jawab Abi.
Abi
Van Dirga, lahir pada tanggal 17 Agustus 1993, teman – temannya
memanggilnya
Abi, duduk di kelas XII IPS, Bengkulu International School.
“ Buruan! Gue udah laper niih..!
“ desak Daffa lagi.
“ Ia.. Ia.. ini juga udah kelar
kok. “ Jawaban Abi menenangkan Daffa.
Sepertinya
sahabatnya itu sudah kelaparan berat. Sesampainya di kantin, Daffa langsung
meluncur ke stand penjual bakso. Bak telah hafal betul dengan Daffa, penjual
bakso itu langsung memberikan satu mangkuk full bakso.
Sudah telat 5
menit, dari bel masuk jam pelajaran berikutnya, tapi Abi masih berada di
kantin, bukannya makan tapi Abi masih menunggu sahabatnya selesai makan.
“ Daff, bisa
cepetan nggak!? “ Abi mencoba mengingatkan Daffa.
“ Ia, bentar
lagi. Tadi elo lama aja, gue tunggu. Sabar napa? “ Jawab Dafa datar. Ia
mengulangi kata – kata Abi tadi di kelas. Abi hanya diam.
**
Sepulang
sekolah, Abi tak lantas pulang ke rumah, dia singgah sebentar ke toko buku
langganannya untuk mencari buku – buku baru sebagai koleksi, Abi memang sangat
gemar membaca dan menulis terutama cerpen dan puisi. Dia banyak mengadaptasi
gaya bahasa dari berbagai pengarang ternama seperti Sapardi Djokodamono, Kahlil
Gibran, WS Rendra, dan tentunya Chairil Anwar. Tulisannya banyak dimuat di
koran – koran dan majalah di Bengkulu.
Siang itu Abi
ingin mencari sebuah buku berjudul “ AKU INI BINATANG JALANG “, buku yang
berisi kumpulan puisi, buah karya salah satu penyair favoritnya Chairil Anwar.
Ia mencari literatur puisi, kemudian mencari buku yang dimaksudnya. Setelah 5
menit, dia menemukan buku yang dicarinya, namun saat Abi hendak mengambil buku
itu, terlebih dahulu buku itu telah diambil oleh seorang gadis yang ada di
seberang lemari tempat Abi berdiri sekarang.
Mata Abi terpaku menatap gadis di depannya, tanpa gadis itu sadari. Bahkan saat
gadis itu beranjak untuk duduk, Abi terus mengikutinya. Bak melihat bidadari
surga, Abi tak henti – henti menatap, seperti tak ingin kehilangan satu
detikpun tatapannya ke arah gadis itu. Mungkin karena malu, gadis itu akhirnya
keluar dari toko buku setelah membayar buku yang seharusnya dibeli Abi tadi.
Sesampainya di
Kost-an, Abi lantas merebahkan badannya di atas satu – satunya bed di
kost-annya. Abi kemudian membuka laptopnya dan mulai menuliskan semua kejadian yang dia alami hari ini, mulai dari keterlambatannya sampai tingkah konyolnya saat bertatapan dengan gadis di toko buku tadi siang. Belaian jemari Abi mengantarkannya kedalam imajinasi yang akhirnya memunculkan inspirasi bagi Abi untuk memulai menulis sebuah puisi indah.
Kertas
yang semula
kosong . .
Sekarang penuh dengan coretan tak berarti
Kertas
yang semula
kosong . .
Sekarang penuh dengan sobekan kertas tak berarti
Satu waktu berlalu . .
Aku baru menyadari bahwa,
Hidup bagaikan kolase
Antara satu potong kertas dengan potongan lain tak pernah sama
Bak kejadian dalam hidup, tak ada yang sama
Satu potongan melengkapi potongan lain
Bak kehidupan . .
Satu kejadian melengkapi kejadian lain
Satu cerita melengkapi cerita lain
Kertas yang semula kosong . .
Sekarang penuh . . dengan cerita . .
Hari
semakin
larut, Abi
menutup
laptopnya
dan
beranjak
untuk
tidur, ia
tentu
tak
ingin
terlambat
ke
sekolah
dan
harus
berurusan
dengan guru BK lagi.
**
Hari ini Kamis, 17 Juni 2010, dari meja yang dikhususkan bagi pembaca yang hendak memebaca buku sebelum mereka memebelinya. Abi melihat dari sudut matanya ada seorang gadis cantik yang duduk berseberangan dengan meja tempatnya duduk sekarang. Kali ini dia memberanikan diri untuk mendekat dan berkenalan dengan gadis itu.
“ Hai, nama
gueAbi. “ katanya
sambil
menyodorkan
tangannya, bermaksud
hendak
berjabat
tangan. Namun
gadis
itu
tidak
merespon kata – kata Abi.Ia
hanya diam.
“ Gue
lihat, elo
suka
baca
buku – buku
kumpulan
puisi
gitu
ya ? apa
elo
juga
suka
nulis? “
Kali ini
Abi
mengajukan
beberapa
pertanyaan
dengan
maksud
ingin
memulai
percakapan
dengan
gadis
itu.Setelah
15 menit
berlalu, dan
sepertinya
dia
juga
sudah
mulai
lelah
dengan
pertanyaan
Abi, akhirnya
gadis
itu
menjawab.
“ Gue
Jessi, Jessica Latifiane. “
Setelah
menjawab
semua
pertanyaan
Abi, Jessica atau yang lebih
akrab
dipanggil
Jessi
ini
berlalu, keluar
dari toko buku. Namun sebelum Jessi membuka pintu toko, Abi memanggilnya.
“ Weekend
ini
ada
acara? “ Tanya Abi
lagi.
“ Enggak, gue
gak
ada
acara weekend ini, kenapa? “
Jessi menjawab
pertanyaan
Abi
dengan
pertanyaannya.
“ Engg.. Berarti, gue boleh dong..main ke rumah? “ Tanya Abi langsung.
Jessi
tak
menjawab, sebagai
gantinya, Jessi
memberikan
instruksi
anggukan
kepala
dan
tersenyum
agak
malu
kepada
Abi.
Abi yang melihat
tingkah salting Jessi
langsung
merasa
bahagia
setengah
mati, ia
sangat
senang
karena
ajakannya
diterima
dengan
senang
hati
oleh
gadis
pujaannya – padahal
baru
beberapa
hari yang lalu
kenal– .
**
Hari – hari
berikutnya
terasa
begitu
singkat, sesingkat jam pelajaran bu Laili sang guru biologi yang paling ditakuti
oleh
seluruh
siswa di Bengkulu
International School. Tak ada alas an khusus mengapa jam pelajaran bu Laili begitu singkat menurut Abi, itu semua karena dia selalu tertidur pada saat bu Laili berada di kelas. Dan saat
Abi
terbangun, bu
Laili
sudah
keluar
ruang
kelas.
Hebatnya, posisi
duduk
Abi
yang
berada di pojok
ruangan
membuat
bu
Laili
tak
pernah
mengontrol
siswanya yang barisan
terbelakang.
Namun
begitu, Abi
tak
pernah ketinggalan pelajara, karena dia mempelajari kembali semua mata pelajaran di kamar kost-nya.
**
-Minggu, 20 Juni
2010. Di depan rumah Jessica –
“
Hai Jess, udah siap? “ Tanya Abi dengan bangganya, karena dia sekarang sedang
mengendarai CBR model terbaru – padahal hasil minjam sama Daffa, dan sebagai
gantinya Abi membelikan makanan selama dua hari -.
“
Emang kita mau kemana ? “ Tanya Jessi balik.
“
Udah, ikut aja, ntar juga lo tau. “ Jawab Abi sambil menyodorkan helm kepada
Jessi.
“
Gue jamin elo bakal suka, dan gak bakal ngelupain ini semua. “ Tegas Abi.
Sekitar 15 menit perjalanan dari
rumah Jessi, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan Abi. Abi meminta Jessi
untuk menutup matanya sampai tiba di lokasi yang menurut Abi merupakan tempat
terasyik dari tempat wisata itu.
“
Gue hitung sampai tiga, elo buka mata ya ?! “ Pinta Abi.
Abi mulai menghitung, satu . . dua
. . tiga . .
Terlihat pemandangan yang sangat
indah, luasnya lautan danpantai panjang, dan juga pemandangan kota Bengkulu
pada malam hari dengan gemerlap lampunya. Menakjubkan!.
Abi
merentangkan tangannya dan memejamkan matanya, menikmati hembusan angin laut
yang menggesek tubuhnya. Namun . . hal sebaliknya menimpa Jessi.
Abi berbalik badan dan melihat
Jessi terpucat.
“
Jess, Jessi, lo gak apa – apa ?! “ Tanya Abi panik.
“
Gue, gue, gue gak apa – apa. “ Jawab Jessi gemetar.
Abi yang menyadari ada hal yang
tidak beres, langsung membawa Jessi pergi dari tempat itu, dana membawa ke
rumah sakit terdekat.
**
“
Jess, ma’afin gue ya, gara – gara gue, elo jadi kayak gini, gue bener – bener
nyesel Jess. “
“
Udah, elo gak salah apa – apa kok, gue aja yang lemah, gue gak berani sama
ketinggian. “ Jawab Jessi.
“
Lagian kan, kata dokter gue gak apa – apa dan boleh langsung pulang. “ Jawaban
Jessi sedikit menenangkan Abi.
Setelah
membereskan administrasi, Abi langsung mengantar Jessi pulang ke rumahnya.
Namun sebelum pulang, Jessi mengajak Abi makan terlebih dahulu. Dengan senang
hati Abi menuruti perintah Jessi, toh setelah semua kejadian tadi, Abi kembali
mulai merasa lapar. Abi mengajak Jessi ke salah satu tempat makan favoritnya,
karena selain enak disana juga harganya murah dan pelayanannya yang ramah
membuat Abi nyaman balik lagi ke sana.
Abi
memesan satu porsi nasi goreng dan es teh manis, yang kemudian disamakan saja
oleh Jessi. Selama mereka makan selama itulah mereka saling bertukar cerita
satu sama lain, mengenai semua hal, bahkan hal pribadi mereka.
Jessi
merasa ada hal yang berbeda diantara dia dan Abi, dia merasa sangat nyaman dan
aman di samping Abi, begitupun halnya dengan Abi. Merasa nyaman didekat Jessi
dan merasa gelisah saat jauh dari Jessi. Keduanya merasa ada keterkaitan antara
satu dengan yang lain.
Setelah
selesai makan, Abi langsung mengantarkan Jessi pulang ke rumah. Dan langsung
pamit pulang ke kost-annya. Sesampainya di kost-an, Abi menyempatkan diri untuk
membuka laptopnya dan menuliskan sebuah puisi.
Kau takkan
mengerti bagaimana kesepianku
Menghadapi
kemerdekaan tanpa cinta
Kau takkan
mengerti segala lukaku
Karna luka
telah sembunyikan pisaunya
Membayangkan
wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah
ketakutan dalam kelumpuhan
Engkau telah
menjadi racun bagi darahku
Apabila aku
dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
. .
Aku tungku
tanpa api.
**
Hari
demi hari berlalu, minggu telah berganti menjadi bulan, Abi dan Jessi semakin
dekat satu sama lain, mereka semakin sering jalan berdua, makan malam di tempat
favorit Abi yang sekarang menjadi tempat favorit Jessi juga.
Tak
ada batasan diantara mereka, tak ada rahasia, Abi selalu menajdi telinga bagi
Jessi yang siap mendengarkan semua keluhannya. Jessi juga dengan senang hati
menjadi supporter bagi Abi saat Abi tengah dalam masalah – kebanyakan masalah
Abi adalah berurusan dengan bu kost-an - . Sekarang hari – hari Abi tak sepi
lagi, ada Jessi yang menemani. Abi memang bukan siapa – siapa Jessi – belum - ,
Abi masih menunggu saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Abi tak ingin
tergesa – gesa, percuma terburu – buru kalau buruk hasilnya, lebih baik
bersabar untuk hasil yang terbaik, begitu pikirnya.
**
Hari
ini, 16 Agustus 2010, waktu menunjukan pukul 18:45 WIB, itu artinya kurang dari
6 jam lagi, adalah hari terbaik dalam hidup Abi, dan kurang dari 1 jam lagi,
dai harus berangkat menjemput Jessi, karena malam ini Abi mengajaknya untuk
jalan dan juga dinner.
Celana
jeans biru, senada dengan kemeja lengan panjangnya, Abi siap berangkat
menjemput Jessi, tak lupa tadi sore dia bernegosiasi dengan Daffa untuk
meminjam motornya. Setelah dirasa sudah cukup persiapan nge-datenya, Abi
langsung meluncur tak ingin Jessi berlama – lama menunggunya.
Setibanya
di rumah Jessi, Abi langsung mengirimkan pesan singkat sebagai kode kalau dia
sidah siap di depan rumah. Dan tak lebih dari dua menit, Jessi keluar rumah
dengan dress selututnya yang tampak
begitu menawan di mata Abi, seorang gadis cantik dengan segala kesempurnaan,
begitulah yang dipikirkan Abi tentang Jessi.
“
Kita berangkat sekarang? “ Tanya Abi, tak mau berlama – lama, seperti sudah ada
rencana tersembunyi setelah malam ini berakhir.
“
Oke. “ Jawab Jessi.
**
- Dari lokasi yang sam saat Abi
pertama kali mengajak Jessi jalan –
“
Bi, elo mau ngajak gue kemana? “ Tanya Jessi penasaran.
“
Udaah.. bentar lagi nyampe kok. “ kata Abi sambil terus menutup mata Jessi dan
menuntun jalannya.
“
Sekarang gue boleh buka mata ? “ Tanya Jessi lagi.
“
Boleh, pelan – pelan ya . . “ Jawab Abi.
Begitu Jessi membuka matanya,
betapa terkejutnya, hamparan laut luas berada di pelupuk matanya, dan yang
lebih menakjubkan adalah saat Jessi menengadahkan wajahnya. Berjuta bintang
menyapa bidadari cantik Jessica, dan tanpa dia sadari senyum indah merkah di
bibirnya, menambah kesempurnaan malam itu.
Sementara
Jessica melihat bintang yang bertaburan bak debu jalanan, Abi yang sejak beberapa
hari lalu sudah mempersiapkan kejutan untuk Jessi, sibuk memberi kode kepada
beberapa orang sewaannya agar bersiap, saat Jessi sudah selesai memandang
langit. Ada yang memegang balon bertuliskan “ I LOVE YOU “, ada juga yang
bersiap di atas, untuk menjulurkan sebuah poster panjang dengan foto Jessi dan
tulisan “ I LOVE YOU “ berwarna pink imut diatasnya.
Setelah
semua persiapan selesai, Abi langsung kembali kepada Jessi untuk
mengintruksikan agar melihat kejutan yang ia siapkan.
“
Jess, aku ingin kamu melihat sesuatu. “ kata Abi sambil menunjukan Jessi arah
pandangannya. Abi membalikkan badan Jessi.
Surprisely, lampu – lampu berwarna
– warni menyala membentuk hati dan sepert bunga – bunga di sampngnya. Seperti
halnya hati Abi saat ini.
Jessi
sangat bahagia, itu terlihat jelas dari senyumnya yang begitu lepas, tanpa ada
paksaan. Namun saat Jessi membalikkan badannya untuk menghadap Abi, hal yang
tak pernah diduganya terjadi lagi, Abi terduduk dengan seikat bunga yang akan
diberikan kepada Jessi. Lalu Abi mulai berbicara. Suasana tiba – tiba hening.
“
Jessica Latifiane, dua bulan yang lalu saat aku pertama kali melihat senyum
kamu, aku ngerasa ada yang berbeda dari diri kamu, yang membuat aku penasaran
untuk mengetahui apakah itu. senyum yang takkan pernah aku dapatkan dari
siapapun, dan saat senyum itu hampir menjadi milikku, sekarang tak akan
kulepaskan.
Jessica, will you be mine?
Forever? “
Abi menutup kalimatnya dengan
pertanyaan yang tak pernah disangka – sangka oleh Jessica, namun sepertinay Jessi
merasakan hal yang sama terhadap Abi, jadi dengan lantangnya Jessi menjawab.
“
Yes, I do. “
Jawaban yang tak seberapa ini,
namun mampu menerbangkan Abi ke angkasa saat itu juga. Betapa bahagianya Abi
malam ini, pertama, ulang tahunnya dirayakan bersama pujaan hatinya, dan yang
kedua, perasaannya yang selama ini terpendam, akhirnya mambuahkan hasil yang
sangat manis. Abi bersyukur, penantiannya tak berakhir sia, kesabarannya tak
salah, karna cintanya diterima oleh gadis pujaannya.
Semua
orang yang menyaksikan bersorak girang, bak ikut merasakan kebahagiaan Abi saat
itu. Tak lama waktu berselang, jam tangan Abi menunjukan pukul 00:00 WIB, itu
artinya tepat saat itu juga, Abi genap berusia 17 tahun. Ini adalah hari
terbaik dalam hidup Abi, dan hari bersejarah dalam hidup mereka berdua.Abi dan
Jessi.
0 komentar:
Posting Komentar